Cuti Bagi Pegawai dan Dosen

Prosedur dan persyaratan pelaksanaan cuti bagi dosen dan pegawai adalah :

  1. Cuti hanya diberikan kepada Dosen Tetap (DT) dan Pegawai Tetap (PT).
  2. Cuti yang diberikan dapat berupa :
    1. Cuti tahunan.
    2. Cuti Bersalin/melahirkan.
    3. Cuti sakit.
    4. Cuti karena alasan penting.
    5. Cuti diluar tanggungan.
  3. Cuti tahunan diberikan dengan ketentuan :
    1. Telah bekerja selama 1 (satu) tahun terus-menerus. (perhitungan 1 tahun bekerja dihitung dari terakhir menggambil cuti pada tahun sebelumnya)
    2. Cuti tahunan diberikan maksimal 12 (dua belas) hari kerja. (Izin dan Alpha tergabung dalam masa cuti)
    3. Cuti tahunan yang tidak digunakan dalam tahun berjalan dinyatakan gugur.
  4. Cuti bersalin/melahirkan diberikan dengan ketentuan :
    1. Cuti bersalin/melahirkan dibuktikan dengan surat keterangan dari pihak yang berwenang. (Rumah Sakit, Bidan, Klinik, dan Puskesmas)
    2. Cuti bersalin/melahirkan diberikan selama 3 (tiga) Bulan.
    3. Cuti bersalin/melahirkan hanya berlaku sampai dengan anak kedua.
    4. Untuk anak ketiga dan seterusnya diberikan cuti diluar tanggungan.
  5. Cuti sakit diberikan dengan ketentuan :
    1. Cuti sakit diberikan apabila menurut pemeriksaan dokter memerlukan istirahat/perawatan. (yang dibuktikan surat keterangan dari rumah sakit)
    2. Lemahnya fisik disebabkan keguguran kandungan dikategorikan sebagai cuti sakit.
    3. Cuti sakit diberikan paling lama 12 (dua belas) hari kerja.
    4. Sakit yang disebabkan kecelakaan kerja berhak memperoleh cuti sakit dengan penghasilan penuh sampai sembuh berdasarkan surat keterangan pemeriksaan dokter yang dirujuk. (yang dibuktikan surat keterangan dari rumah sakit)
    5. Dosen dan pegawai yang sakit terus menerus berdasarkan surat keterangan dari dokter sehingga tidak dapat melaksanakan tugas dan kewajiban, maka :
      • Paling lama 6 (enam) bulan, penghasilan dibayar 100%.
      • Lebih dari 6 (enam) bulan sampai dengan 1 (satu) tahun, penghasilan dibayar 50%.
      • Lebih dari 1 (satu) tahun, diberhentikan dengan hormat sesuai ketentuan yang berlaku di Universitas Medan Area.
  6. Cuti karena alasan penting dapat diberikan dengan memperhatikan usul dan persetujuan atasan langsung.
  7. Cuti diluar tanggungan diberikan dengan ketentuan :
    1. Telah bekerja selama 5 (lima) tahun secara terus menerus.
    2. Cuti diluar tanggungan diberikan kepada dosen dan pegawai minimal 6 (enam) bulan dan maksimal 2 (dua) tahun serta dapat diperpanjang kembali.
    3. Dosen dan pegawai yang sedang cuti diluar tanggungan tidak mendapat penghasilan dari Universitas Medan Area / Yayasan Pendidikan Haji Agus Salim.
    4. Dosen dan pegawai yang telah selesai cuti diluar tanggungan dapat bekerja kembali setelah mendapatkan Surat Keputusan Aktif Kembali dari Badan Pelaksana Harian Yayasan Pendidikan Haji Agus Salim.
    5. Pengaktifan kembali setelah cuti diluar tanggungan dipertimbangkan berdasarkan tersedianya formasi yang akan diisi dosen dan pegawai bersangkutan.
    6. Apabila sampai batas masa cuti yang bersangkutan tidak melapor dianggap mengundurkan diri.
    7. Masa menjalankan cuti diluar tanggungan tidak diperhitungkan sebagai masa kerja.
  8. Ketidakhadiran yang terjadi pada rentang waktu perhitungan cuti akan mengurangi hak cuti dosen atau pegawai yang bersangkutan.
  9. Prosedur pelaksanaan cuti bagi dosen dan pegawai adalah :
    1. Permohonan cuti selambat-lambatnya diajukan 1 (satu) minggu sebelum menjalani cuti.
    2. Permohonan cuti harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari atasan langsung.
    3. Cuti dapat dilaksanakan hanya apabila surat cuti telah diterbitkan.
    4. Yang berhak memberikan cuti tahunan, cuti sakit, cuti melahirkan dan cuti karena alasan penting adalah Wakil Rektor Bidang Administrasi.
    5. Yang berhak memberikan cuti diluar tanggungan adalah Yayasan Pendidikan Haji Agus Salim atas usul Wakil Rektor Bidang Administrasi.

 



Contoh :

Saudara Putra mengajukan cuti tahunan selama 12 hari kerja yang diambil dalam 2 tahap, tahap pertama 6 hari kerja (tanggal 01 sampai tanggal 06), selanjutnya yang bersangkutan aktif bekerja mulai tanggal 07 sampai tanggal 17. Dan cuti tahap kedua 6 hari kerja (tanggal 18 sampai tanggal 23) yang bersangkutan telah mendapat persetujuan langsung.

Kesimpulan :  Bahwa permohonan cuti dimaksud tidak dapat di proses, karena cuti yang diberikan sesuai ketentuan  adalah satu tahun bekerja terus menerus, yang artinya yang bersangkutan harus bekerja secara terus menerus (tidak cuti) mulai dari berakhirnya masa cuti yang diambil pada tahap pertama.



Flowchart pengajuan cuti tahunan

Skema



 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *