WASPADAI JURNAL PREDATOR!

Mengenali Jurnal Predator

Semakin tingginya permintaan publikasi international saat ini untuk syarat kelulusan mahasiswa S2/S3, syarat kenaikan pangkat atau kewajiban peneliti dan dosen untuk publikasi menjadi kesempatan jurnal abal-abal (jurnal predator) untuk mencari uang. Sehingga jurnal predator merupakan model bisnis yang biasanya mengeksploitasi model jurnal open access untuk meraup uang sebanyak-banyaknya (bussiness oriented) tanpa memperhatikan kualitas artikel yang dipublikasikan. Publisher atau penerbit jurnal predator memiliki puluhan jurnal predator di bawah naungannya, dan bisa dipastikan jurnal-jurnal tersebut predator jika publisher-nya predator. Jurnal predator juga ada yg bersifat individual atau perseorangan. Berikut ini adalah ciri-ciri jurnal predator

  1. Jurnal predator melakukan proses/waktu publikasi dengan cepat (tanpa tahap peer-review) oleh reviewer yg ahli dalam bidang tersebut.
  2. Jurnal predator tidak banyak memberikan revisi, bahkan sahabat dapat temukan banyak kesalahan-kesalahan penulisan. Kualitas artikel jurnal predator yang dipublikasikan buruk dari segi data, tata bahasa/penulisan.
  3. Jurnal predator menetapkan biaya publikasi yang cukup mahal (ratusan hingga ribuan USD) dengan menjanjikan penerbitan letter of acceptance yang bagi beberapa sahabat hal ini adalah sangat dibutuhkan untuk kepentingan akademis.
  4. Jurnal predator memiliki website yang cenderung tidak meyakinkan. Artikel-artikel yang dimuat pada jurnal predator tidak spesifik dengan cakupan jurnal tersebut.
  5. Jurnal predator memiliki editorial board hanya berasal dari sedikit negara.

Dampak Negatif Jurnal Predator

Sahabat, ketahuilah beberapa dampak negatif jika publikasi sahabat dimuat dalam jurnal predator

  1. Jurnal predator mengancam kualitas publikasi ilmiah sahabat
  2. Jurnal predator merugikan penulis dan pembaca yang mensitasi publikasi dari jurnal predator tersebut.
  3. Jurnal predator sangat rawan plagiat sehingga sangat mudah publikasi sahabat diplagiarisasi oleh pihak tidak bertanggung jawab.
  4. Jurnal predator menjadi jalan pintas untuk publikasi ilmiah cepat
  5. Jurnal predator tidak diakui Kementerian Pendidikan dan Pendidikan tinggi/risiko terbesarnya adalah kendala kenaikan pangkat dan proses akademis lainnya.

Tips Menghindari Jurnal Predator

Sahabat harus memastikan jurnal yang sahabat pilih adalah jurnal dengan kredibelitas yang dapat dipercaya. Pastikan ada transparansi biaya dan proses publikasi pada website jurnal dengan jelas. Pastikan website jurnal memiliki alamat dan kontak korespondensi yang jelas. Pastikan website jurnal dan bacalah keseluruhan informasi pada website dengan baik, pastikan tidak ada kriteria apakah ada yang mencurigakan. Sahabat dapat menggunakan beberapa alamat website berikut ini untuk mengecek apakah jurnal yang sahabat cari adalah jurnal predator. Website yang biasa digunakan untuk mengecek jurnal predator daftar predator publisher atau daftar jurnal predator. Jurnal yang sudah terindex Scopus dan bukan predator harus selalu sahabat pastikan status terkini dari jurnal-jurnal tersebut, karena jurnal yang sudah terindeks Scopus juga bisa dikeluarkan dari Scopus karena ternyata memiliki indikasi jurnal predator. Berikui ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencari target jurnal Scopus yang tepat:

  1. Tentukan index jurnal (Q1/Q2/Q3/Q4) target, sesuaikan dengan kualitas manuskrip. Q1 memiliki reputasi paling baik (peringkat 25% tertinggi dari jurnal dibidang kajiannya), Q1 sangat ketat proses publikasi dan biasanya kita harus bersaing dengan scientist senior. Q4 jurnal yang baru terindeks Scopus sehingga lebih mudah untuk jadi target publikasi, tetapi harus selalu update informasi karena peringkat Q4 bisa naik ke Q3 atau bisa saja dikeluarkan dari Scopus setelah evaluasi tahunan. Rekomendasi untuk publikasi adalah jurnal dengan Q2/Q3.
  2. Pastikan topik artikel kita sesuai cakupan dengan target jurnal, setiap jurnal juga memiliki prioritas masing-masing dibidang kajian jurnal, trend/novelty yang menjadi penelitian saat ini juga lebih diprioritaskan untuk diterima.
  3. Pastikan publisher dan jurnal bukan predator dengan mengecek website Beall’s list of Predatory Journal. Sahabat juga dapat melihat reputasi jurnal (index dan Impact Factor) jurnal yang terindeksasi Scopus dari website Scimagojr dan reputasi jurnal Web Of Science

Antisipasi Publikasi Jurnal Predator:

Perlu sahabat ketahui bahwa Scimagojr sangat populer dikalangan scientist karena fiturnya lengkap. Jurnal Scopus yang sudah memiliki nilai SJR akan masuk pada website Scimagojr.com. Sahabat dapat menggunakan website SINTA kemenristekdikti untuk melihat jurnal dalam negeri yang sudah terindeks Scopus dan diakui DIKTI dengan kategori S1, S2, S3, hingga S6. Kategorisasi S1 (memiliki nilai A) atau jurnal yang kebanyakan sudah terindeks Scopus dan diakui kementerian riset dan teknologi. Berikut ini adalah beberapa website untuk mencari target jurnal yang baik:

Dengan memasukkan judul dan abstrak pada journal guide kita bisa mendapatkan referensi-referensi jurnal yang sesuai dengan scope paper kita. Selanjutnya kita harus mengecek kembali pada scimagojr untuk melihat status Q berapa, dan apakah jurnal tersebut masih on-going atau tidak. Sahabat juga bisa mendapatkan target jurnal yang gratis melalui website journals4free.com.

artikel lain :

LIMA DATABASE PENCARIAN LITERATUR UNTUK MEMBUAT KARYA TULIS ILMIAH “BERISI”

%d blogger menyukai ini: